Whoever me, Whatever me, and Whenever me. I'm the only one and just one of "me".

Kamis, 20 April 2017

Pengalaman Terbang Paralayang di Puncak

21.22 Posted by Tiara Putri , , 5 comments
Mulai bulan April, saya pindah domisili lagi, setelah setahun menetap di Jakarta, roda rezeki memanggil saya pulang. Hari-hari terakhir saya di Jakarta ini ingin saya habiskan dengan kegiatan yang belum pernah saya lakukan sebelumnya, seperti menyelam di Seaworld Ancol kemarin dan kali ini saya akan bercerita tentang pengalaman paralayang di Puncak.


Hari Selasa, 28 Maret 2017, saya putuskan untuk mencoba paralayang di puncak. Hari itu tanggal merah jadi saya dan Ardiyan berencana untuk pergi subuh-subuh dari Jakarta. Ardiyan sih ontime ya, setelah subuhan langsung jemput saya. Nah saya pas adzan subuh, masih geliat-geliat di kasur, terus mandinya sambil ngelamun dulu haha.

Saya juga sempat riweuh, karena baterai kamera yang saya charge dari semalam malah enggak penuh-penuh, ternyata ada kesalahn, setelah diotak-atik, akhirnya bisa juga sih. Tapi jadi cuma punya waktu kurang lebih setengah jam untuk mengisi dayanya. 

Akhirnya kami jalan pukul enam kurang. Jalan tol sudah mulai rame tuh, untungnya pas keluar tol dan masuk Megamendung tidak macet jadi kami bisa sampe cepat di Masjid At-Taawun. Kami cari parkir dan sarapan di area masjid, sambil numpang isi daya baterai kamera saya.


Dari masjid, kami jalan turun kurang lebih sekitar 50 meter dan melewati tanjakan di tengah-tengah perkebunan teh yang menjadi jalan pintas langsung menuju tempat paralayang. Ternyata disana sudah banyak yang terbang loh, padahal baru sekitar jam 10an..

Berapa harganya ?
Rp 350.000/orang
Rp 150.000 harga sewa action cam.


Setelah mendaftarkan diri dan menandatangani surat pernyataan, kami berfoto sambil melihat yang terbang duluan. Disitu saya sempat tertarik untuk sewa action cam, karena kami Cuma bawa satu action cam dan kamera yang saya pegang itu DSLR dan digital biasa. Tapi karena mahal ya tidak jadi deh hhehhe.


Lalu kami pun masuk area landasan, saya dipasangi tas yang berfungsi sebagai harness dan dudukan saat terbang. Barang-barang bawaan bisa dimasukan ke tas tersebut. Setelahnya saya dikaitkan dengan pilotnya, lalu disuruh lari. Iya gitu aja, cepet banget deh, gg ada santai-santainya, enggak ada instruksi yang mendetail, udah disuruh lari aja.


Pas lari itu kan langsung turunan curam dan saya yang takut tinggi otomatis berteriak dan terbanglah saya. Whoaaa luar biasa banget deh pengalamannya, melihat jalur Puncak dari ketinggian, bukit-bukit, kebun teh, belum lagi sensasi digoyang angin, itu luar biasa sekali.


Kami berputar dan terbang, rasanya kaya Cuma lima menit deh saking bentarnya, tapi seru sih dan ketika mendarat, saya disuruh angkat kaki setinggi-tingginya dan dudukan tersebut dengan hentakan menyentuh tanah.


Nah setelah itu kami ditawari foto-foto ketika mendarat. Saya tadinya enggak mau, karena Rp 25.000/lembar. Tapi setelah lihat foto-fotonya kok bagus-bagus dan akhirnya kami ambil yang soft copy-nya saja Rp 15.000/foto.



Setelah itu, kami bingung, kok angkot yang akan membawa kami ke atas kok tidak ada. Ada ojek motor tapi kami bayar sendiri, Rp 40.000/orang. Akhirnya kami jalan ke atas, ke jalan raya dan disitu diberi tahu, angkotnya tidak bisa turun karena terjebak macet dan kami harus naik ojek/angkot dengan biaya sendiri.


Akhirnya kami naik angkot yang lewat, Rp 25.000 untuk dua orang. Eh nambah kesel lagi ketika angkot kami dilarang masuk kawasan paralayang, disitu saya bilang kalau kami baru selesai paralayang dan ditinggal di bawah, sedangkan barang-barang saya dititip di atas, gimana ceritanya saya enggak bisa masuk kan.

Setelah saya rada mengomel, angkot kami pun diperbolehkan masuk. Di meja pendaftaran dan penitipan barang, sambil berusaha menahan emosi, saya komentar kenapa kami ditinggal di bawah dan untuk naik ke atas harus bayar sendiri.
“Masa kami ditinggal Pak, bukannya biaya tersebut sudah termasuk naik kembali ke pendaftaran ya”
“Kalau hari libur memang begitu, saya enggak bisa jamin untuk transportasi naiknya, mesti naik ojek bayar masing-masing”
“Lah tadi kan mbaknya pilih-pilih foto”
“Loh, kalau bapak bilang itu angkot terakhir ya saya buru-buru, enggak ada yang kasih tahu atau bilang-bilang kalau itu angkot terakhir, logikanya kan setiap wisatawan mesti dinaikin lagi ke atas.”

Lalu saya bilang bahwa tadi kami menandatangani surat pernyataan membebaskan pengelola dari segala tuntutan kecelakaan tapi pengelola lepas tangan dari kondisi wisatawan setelah mendarat, sedangkan parkiran, penitipan barang di tempat lepas landas. Ditambah layanan foto kan hubungan simbiosis dengan paralayang itu sendiri, tapi disalahkan menjadi penyebab kami tidak bisa naik. Sungguh bentuk manajemen pengelolaan wisata yang tidak menyeluruh. Mereka hanya manggut-manggut seolah kritik saya adalah hal yang sudah biasa mereka dengar. 


Saya senang dan mendapatkan pengalaman baru melalui paralayang ini, meskipun kurang dari 10 menit, tapi sesuatu yang layak dicoba. Hanya saja pelayanan dari para operatornya memberikan kesan yang kurang enak, menjadikan penilaian saya terhadap wisata ini terbagi. Semoga saja kedepannya operator paralayang di Puncak memperbaiki pelayanannya agar wisata tersebut semakin maju dan meninggalkan kesan positif bagi para wisatawan.
xxxChuu original by ra~ccon.

Selasa, 11 April 2017

Fun Dive di Seaworld Ancol

21.51 Posted by Tiara Putri , , 11 comments
Ada yang pernah baca novel teenlit tahun 2007-an berjudul Lovely Luna ?. Di novel tersebut dikisahkan pemeran utama perempuannya punya hobi menyelam dan bekerja di Seaworld. Waktu itu saya pikir keren sekali bisa bekerja di Seaworld dan bagaimana ya rasanya bisa menyelam ?. Mungkin itu yang membuat saya ingin memiliki lisensi menyelam yang akhirnya bisa saya dapatkan di tahun 2013 lalu.

Setelah penyelaman di Pulau Sambangan, saya belum pernah ke laut lagi untuk menyelam. Waktu ke Krakatau dan Pulau Harapan saya hanya snorkeling. Bawa turun alat selam cuma di mata air ponggok. Padahal waktu kuliah bertekad kalau sudah kerja akan lebih sering menyelam, ternyata pas sudah kerja, ada uangnya eh waktunya yang enggak ada, sedih hhuhhu.

Nah suatu hari saya ingat tentang novel Lovely Luna itu yang menyelam di Seaworld, saya pikir yah tidak apa-apa kali ya menyelam di Seaworld, semoga jadi semacam pemanasan untuk selanjutnya bisa semangat mengusahakan menyelam di laut lagi.

Bagaimana cara daftarnya ?
Silahkan langsung menghubungi di nomor 021 - 64711111. Baiknya sih reservasi H-3 untuk booking tanggal, jadi pasti gitu, kita datang bisa langsung nyelam.

Berapa biayanya ?
Rp 700.000 untuk non-lisensi
Rp 500.000 untuk yang memiliki lisensi
Biaya tersebut sudah termasuk tiket masuk dan satu set alat selam beserta wet suit. Bagi yang berjilbab harus membawa sendiri penutup kepala, karena sepertinya pihak Seaworld tidak menyediakan hood.


Saya booking penyelaman jam 10:00 di tanggal 19 Maret 2017, setelah sebelumnya saya gagal menyelam di tanggal 11 Maret karena kuota sudah penuh dan saya menelpon di hari itu juga. Hari Minggu, 19 Maret, jam 08:00 saya sudah dalam perjalanan menuju Ancol. Ketiba tiba di Seaworld, saya langsung menuju Customer Service dan mengonfirmasi booking-an saya. Mas cs-nya menelepon pihak penyelam untuk memberitahukan kedatangan kami. Setelah melakukan pembayaran, kami diperbolehkan untuk masuk tetapi jam 10 diminta datang ke CS untuk bertemu dengan penyelam mereka.


Setelah sarapan dan berkeliling sebentar, saya kembali ke CS dan diarahkan ke ruangan staf di lantai dua. Di lantai dua sudah ada ruangan khusus untuk peserta Fun Dive, didalamnya ada ruang duduk, loker dan kamar bilas. Saya disambut oleh mas Aden dan hmm seorang lagi saya lupa yang akan menemani kami menyelam. Lalu kami mengisi surat pernyatan dan berganti baju.

Karena saya dan Ardiyan sudah lama tidak memakai alat selam, kami diminta untuk penyesuaian di kolam dangkal. Saya mencoba untuk latihan mask clearing dan bergerak menggunakan open heels yang kebesaran.

Setelah itu, kami pun menuju tanki utama, sumpah saya deg-degan, antara takut, excited dan panik campur aduk. Mas Aden memberitahukan bahwa kami akan berputar sekali lalu karena jam 11:00 adalah waktunya Feeding Show, maka kami disuruh menunggu di belakang, baru setelah itu akan lanjut lagi selamnya.

Ketika masuk tanki, woaaah ikannya besar-besar bangeeet, keder sumpah saya. Sensasinya berbeda dengan menyelam di laut yang sudah saya datangi, ikan-ikan besar lalu lalang, belum lagi ikan pari yang besar, luar biasa sekali deh perasaannya.

Apalagi ketika Mas Aden dan kawannya membawa ember berisi makanan, wah udah kaya parade, ikan-ikan membututi mereka bahkan mengerubungi mereka. Kami yang lihat dari belakang saja takjub deh. 

Ada kejadian menarik ketika saya menunggu mas Aden yang sedang Feeding Show, saya sedang melambai-lambai ke arah kaca kubah, itu loh akuarium yang berbentuk kubah dan ada conveyornya. Orang-orang di luar menunjuk-nunjuk saya dan ketika saya menengok ke belakang, seekor pari sedang menatap saya, dueeeeng kaget sumpah saya dan buru-buru naik. Kata Ardiyan, parinya mengikuti saya.


Setelah itu kami berputar-putar dan berfoto. Karena saya sudah pusing, tenggorokan kering maka kami memutuskan untuk naik, meskipun Ardiyan belum puas. Jam 12;00 kami selesai mandi dan beres-beres, lalu foto-foto diluar dan pulang deh.

Meski cuma menyelam di dalam akuarium sedalam 4-7 meter dengan luas 1/4 lapangan sepak bola, saya bahagia sekali loh, bagaimana kalau menyelam di laut kan, luar biasa sekali perasaannya.


Saya dan Ardiyan sepakat, hal paling menyenangkan dari menyelam di Seaworld adalah ketika berinteraksi dengan pengunjung di luar, dimana kami melambai-lambaikan tangan, lalu berpose, duh udah berasa jadi artis saja deh hehehe. Foto-fotonya tumben sedikit ya, karena kami lebih banyak ambil video sih sambil menikmati sensasi berenang di tanki akuarium, berminat menyelam di Seaworld Ancol ?
xxxChuu original by ra~ccon. 

Sabtu, 18 Maret 2017

Pengalaman Konsultasi Ke Psikolog

13.46 Posted by Tiara Putri , 16 comments
Hi, apa kabar blog ?, akhir tahun lalu saya berjanji mau rajin nulis, eh baru terealisasi di bulan ketiga dan langsung bahas tentang pengalaman konsultasi dengan psikolog pula, ada apa gerangan ? hehe tidak ada apa-apa sih mendramatisir saja.

Hari Jumat, 10 Maret kemarin saya berkonsultasi dengan psikolog di Klinik Terpadu Fakultas Psikologi UI Depok. Ini pengalaman pertama bagi saya setelah berkali-kali membaca review di internet. Ditambah maju mundur juga secara biaya konsultasi psikolog itu per jamnya setara dengan kunjungan ke dokter spesialis. Saya jadi semacam keder nanti kalau sudah datang apakah saya akan merasa puas atau tidak. Apakah saya akan di-judge oleh psikolognya dan pikiran-pikiran receh lainnya.

Kenapa ke Psikolog ?
Jadi pada akhirnya saya memutuskan untuk berkonsultasi ke Psikolog karena saya ingin ada perubahan dalam diri saya dan terutama saya butuh didengarkan, secara fokus, tanpa dipotong, tanpa dinilai dan diberikan solusi.

Cerita ke temen/sodara kan bisa, curhat aja kok bayar.
Iya betul sekali. Namun pada kondisi saya, seperti yang telah saya utarakan, saya butuh empati dari pendengar akan kisah saya yang akhir-akhir ini saya merasa (secara subyektif ya alias sayanya aja baperan) sulit bercerita kepada orang-orang sekitar saya.

Bagaimana cara reservasi ke klinik terpadu UI ?
Langsung menghubungi mereka di nomor 021-78881150 untuk membuat reservasi. Nanti akan ditanya berapa umurnya dan kira-kira masalah apa yang ingin dibicarakan. Lalu pihak klinik akan meminta kontak kita untuk memberitahu jadwal konsultasi kita. Setelah itu tinggal menunggu dikabari oleh pihak klinik deh.

Berapa biayanya ?
Pendaftaran Rp 25.000 dan biaya konsultasi/jam Rp 200.000

Lalu ?
Jadi ketika datang, saya diminta untuk mengisi sebuah map yang nantinya akan berperan seperti rekam medis gitu. Disitu saya diminta untuk mengisi biodata, keluarga dan latar belakang pendidikan. Setelah itu tak berapa lama, saya dipanggil masuk ke ruangan konsultasi. Ruangannya hanya ada 3 sofa coklat, meja dan tanaman. Lalu ruangannya berkaca begitu jadi saya bisa melihat keluar.

Psikolog saya lalu bertanya, apa yang bisa ia bantu, awalnya bahkan sepanjang perjalanan saya bingung nanti akan mulai bercerita dari mana, tapi setelah memulai, saya lancar jaya bercerita, berkeluh kesah bahkan menangis hahaha katup air mata saya memang sudah dari dulu aus, gampang banget bocornya.

Bisa ya cerita sama orang asing ? tidak malu gitu ?
Saya sih bisa-bisa saja ya. Apalagi saya punya pemahaman bahwa, psikolog secara profesional akan mendengarkan cerita saya, mungkin akan menganalisis jika memang bermasalah dan pada akhirnya akan memberi solusi. Saya juga tidak saling kenal sebelumnya dengan psikolognya, ditambah semua yang saya ceritakan setau saya akan menjadi kerahasiaan.

Lalu bagaimana peraasaannya setelah ke psikolog ?
Lega ya jelas ditambah saya juga dapat masukan hal-hal baru. Saya juga merasa puas karena sejak awal saya ke psikolog memang tujuannya ingin didengarkan. 

Saya juga belajar hal baru. Ketika saya berbicara, saya sekilas mengamati ibu psikolog saya. Bagaimana gesturnya, ekspresinya yang seolah menyiratkan "ya saya mendengarkan, saya mencoba memahami ceritamu" dan meyakinkan saya untuk menceritakan keluh kesah saya.

Sebuah pelajaran bagi saya bahwa derajat masalah bagi tiap orang itu berbeda. Jika ada teman atau saudara yang membuka diri untuk bercerita pada kita, coba berempati, untuk melihat masalah dari sudut pandangnya. Hal sepele bagi kita, bisa jadi hal berat baginya. Kita bisa membantu meringankan dengan setulus hati mendengarkan, syukur kalau bisa memberi solusi.
xxxChuu original by ra~ccon.