Whoever me, Whatever me, and Whenever me. I'm the only one and just one of "me".

Sabtu, 18 Maret 2017

Pengalaman Konsultasi Ke Psikolog

13.46 Posted by Tiara Putri , 13 comments
Hi, apa kabar blog ?, akhir tahun lalu saya berjanji mau rajin nulis, eh baru terealisasi di bulan ketiga dan langsung bahas tentang pengalaman konsultasi dengan psikolog pula, ada apa gerangan ? hehe tidak ada apa-apa sih mendramatisir saja.

Hari Jumat, 10 Maret kemarin saya berkonsultasi dengan psikolog di Klinik Terpadu Fakultas Psikologi UI Depok. Ini pengalaman pertama bagi saya setelah berkali-kali membaca review di internet. Ditambah maju mundur juga secara biaya konsultasi psikolog itu per jamnya setara dengan kunjungan ke dokter spesialis. Saya jadi semacam keder nanti kalau sudah datang apakah saya akan merasa puas atau tidak. Apakah saya akan di-judge oleh psikolognya dan pikiran-pikiran receh lainnya.

Kenapa ke Psikolog ?
Jadi pada akhirnya saya memutuskan untuk berkonsultasi ke Psikolog karena saya ingin ada perubahan dalam diri saya dan terutama saya butuh didengarkan, secara fokus, tanpa dipotong, tanpa dinilai dan diberikan solusi.

Cerita ke temen/sodara kan bisa, curhat aja kok bayar.
Iya betul sekali. Namun pada kondisi saya, seperti yang telah saya utarakan, saya butuh empati dari pendengar akan kisah saya yang akhir-akhir ini saya merasa (secara subyektif ya alias sayanya aja baperan) sulit bercerita kepada orang-orang sekitar saya.

Bagaimana cara reservasi ke klinik terpadu UI ?
Langsung menghubungi mereka di nomor 021-78881150 untuk membuat reservasi. Nanti akan ditanya berapa umurnya dan kira-kira masalah apa yang ingin dibicarakan. Lalu pihak klinik akan meminta kontak kita untuk memberitahu jadwal konsultasi kita. Setelah itu tinggal menunggu dikabari oleh pihak klinik deh.

Berapa biayanya ?
Pendaftaran Rp 25.000 dan biaya konsultasi/jam Rp 200.000

Lalu ?
Jadi ketika datang, saya diminta untuk mengisi sebuah map yang nantinya akan berperan seperti rekam medis gitu. Disitu saya diminta untuk mengisi biodata, keluarga dan latar belakang pendidikan. Setelah itu tak berapa lama, saya dipanggil masuk ke ruangan konsultasi. Ruangannya hanya ada 3 sofa coklat, meja dan tanaman. Lalu ruangannya berkaca begitu jadi saya bisa melihat keluar.

Psikolog saya lalu bertanya, apa yang bisa ia bantu, awalnya bahkan sepanjang perjalanan saya bingung nanti akan mulai bercerita dari mana, tapi setelah memulai, saya lancar jaya bercerita, berkeluh kesah bahkan menangis hahaha katup air mata saya memang sudah dari dulu aus, gampang banget bocornya.

Bisa ya cerita sama orang asing ? tidak malu gitu ?
Saya sih bisa-bisa saja ya. Apalagi saya punya pemahaman bahwa, psikolog secara profesional akan mendengarkan cerita saya, mungkin akan menganalisis jika memang bermasalah dan pada akhirnya akan memberi solusi. Saya juga tidak saling kenal sebelumnya dengan psikolognya, ditambah semua yang saya ceritakan setau saya akan menjadi kerahasiaan.

Lalu bagaimana peraasaannya setelah ke psikolog ?
Lega ya jelas ditambah saya juga dapat masukan hal-hal baru. Saya juga merasa puas karena sejak awal saya ke psikolog memang tujuannya ingin didengarkan. 

Saya juga belajar hal baru. Ketika saya berbicara, saya sekilas mengamati ibu psikolog saya. Bagaimana gesturnya, ekspresinya yang seolah menyiratkan "ya saya mendengarkan, saya mencoba memahami ceritamu" dan meyakinkan saya untuk menceritakan keluh kesah saya.

Sebuah pelajaran bagi saya bahwa derajat masalah bagi tiap orang itu berbeda. Jika ada teman atau saudara yang membuka diri untuk bercerita pada kita, coba berempati, untuk melihat masalah dari sudut pandangnya. Hal sepele bagi kita, bisa jadi hal berat baginya. Kita bisa membantu meringankan dengan setulus hati mendengarkan, syukur kalau bisa memberi solusi.
xxxChuu original by ra~ccon. 

13 komentar:

  1. Emang sih, klo cerita ke orang tuh potensi disukurin atau diomelin balik, haha. Mending cerita ke orang yang emang bener2 ngerti

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dan belajar untuk menjadi orang yang berempati, biar dapet pahala dari mengurangi sedih orang lain yah.

      Hapus
  2. Hai mbak. Makasih yaa reviewnya. Mbak, ada semacam treatment apa dari psikolog nya? Lalu ada kunjungan lanjutan ngga? Eh iya maaf ya, mbak banyak tanya. soalnya aku juga pengen konsul psikolog dr dulu :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo mbak. Kalau kata psikolog saya kemarin sih sy gg perlu datang lagi karena mungkin dianggap case closed. Tapi ibunya bilang kalau saya butuh bicara atau sharing2 lagi ya bisa datang atau buat janji lagi. Psikolog sy sih semacam menegaskan hal2 apa yg harus sy usahakan. Kalau memang orang2 terdekat dinilai kurang bisa membantu, datang ke psikolog semoga bisa jadi solusi ya mbak. Thx for reading.

      Hapus
  3. betul, tidak semua orang bisa mengerti
    apalagi soal rahasia dan solusi
    kebanyakan mereka hanya ingin tahu saja, tanpa ingin memberikan solusi
    aku dulu sebelum nikah juga jarang banget curhat sama orang lain, hampir ga pernah malahan
    tapi sejak menikah, tempat curhatku ya istriku (yang komen di atas tuh) :D
    curhat mulai dari hal yang dianggap penting hingga ga penting sama sekali (tapi menurutku itu tetap penting)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cieeh yang udah mau jadi bapak beranak dua, selamat yah. Nah disitu ya penekanannya, bagaimana mendengarkan setidakpenting apapun, tanda kepercayaan kan

      Hapus
    2. betul
      kadang yang tidak penting pun bisa mengarah ke penting

      Hapus
  4. Aku kadang pengen gitu ke psikolog.
    Tapi karena kelamaan mikir jadi enggaknya, gimana caranya, sebegitu penting kah, akhirnya malah ga jadi2.
    Makasih ya buat sharing nya :D

    BalasHapus
  5. Sip. Jadi memang profesi psikolog sudah mulai banyak digunakan ya. Terutama kota besar dengan tingkat stress yang semakin meningkat. Dulu kan identik psikolog dengan gangguan kejiwaan gimana gitu.

    BalasHapus
  6. Aku belum pernah. Ini jadi noted ku

    BalasHapus
  7. Suka pengen ke psikolog juga buat nyeritain keluh kesah ini. Tapi aku lebih nyaman menceritakan keluh kesal sama Ibu sendiri. Entah masalah perasaan, ataupun yang lainnya ..he

    BalasHapus
  8. Kalau saya punya keluh kesah, paling cuma cerita ke ibu atau teman. Kadang nggak pengin dikasih solusi, cuma mau ngeluh aja. Ehehe.

    Untung selama di sekolah saya pernah konsultasi ke BK. Perihal jurusan kuliah. Jadi pernah ngerasain deh gimana yang namanya konsultasi ke orang selain ibu atau teman.

    BalasHapus
  9. Aku belum pernah ke psikolog. Cuam pernah lihat di diflim aja psikolog kaya gimana.

    BalasHapus

Hoya ^^ terima kasih telah berkunjung.
Kurang berkenan ? silahkan berkritik.
Kurang greget ? saran akan selalu diterima :)
Komentar yang masuk saya moderasi, jadi tidak langsung muncul di kotak komentar :)