Whoever me, Whatever me, and Whenever me. I'm the only one and just one of "me".

Kamis, 15 Desember 2016

Gunung Gede - 2958 AMSL, Done ✔.

09.07 Posted by Tiara Putri , , 5 comments
Long weekend pada kemana nih ?, Kalau saya muncak Gunung Gede dong hhehhe, Alhamdulillah kesampaian juga nih muncak di salah satu gunung yang jual mahal ini, kok jual mahal ?, soalnya untuk bisa naik gunung Gede mesti urus Simaksi (Surat izin masuk kawasan konservasi) dari jauh-jauh hari secara online. Saya bahkan sudah mengurus izin masuk bersama empat kawan saya dari bulan Oktober loh, karena tanggal pendakian yang saya incar itu 10-11 Desember 2016, pas long weekend kemarin, jadi mesti start dari jauh hari.

Masih segar baru mau mulai pendakian
Jumat, 09 Desember 2016, setelah berbelanja logistik pendakian, saya jemput Diah -sodara seorganisasi kuliah- di Stasiun Senen, dia datang dari Semarang. Tim saya jadinya cuma bertiga saja -saya, Ardiyan & Diah- makanya saya sebut ini tim kesepian. Kami lanjut makan di KFC Salemba sebelum langsung meluncur ke arah Puncak, sekitar pukul 23:00 dari KFC Salemba dan tiba pukul 02:30 di Cibodas. Begitu tiba, kami cari parkiran dan langsung tidur di mobil.

Outfit of the day 😄 
Ketika kami datang, parkiran mobil masih satu lajur, pas saya bangun untuk subuhan di jam 05:00, parkiran mobil sudah menjadi 3 lajur dong dan sudah banyak pendaki yang bersiap-siap jalan. Kalau kami tidak bisa langsung jalan, karena belum tebus simaksi karena loketnya baru buka pukul 09:00. Jadi kami santai dulu sambil packing barang dan sarapan.

Tanjakan setan / Tanjakan rantai
Sialnya kami, ketika jam 09:00 tiba dan kami mau ambil simaksi, kami diminta untuk menyertakan surat keterangan sehat dan bukti transfer mobile banking yang harus dicetak, sedangkan hanya Diah yang udah buat surat keterangan sehat, saya dan Ardiyan belum. Jadilah kami berdua turun ke pertigaan, mencari warnet dan rumah sakit. Akhirnya kami baru bisa berangkat pukul 11:00, molor satu jam dari jadwal.

 
Pendakian kami berbarengan dengan acara Ultrarun GP100, jadi selama pendakian kami berpapasan dengan para pelari di nomor kategori 25K, 50K, 75K dan 100K. Saya saja berasa enggak sampai-sampai ya itu ke Kandang Badak, nah mereka yang masuk kategori 100K, malah sudah 3x bolak balik basecamp - Puncak Gede - Suryakencana - Puncak Pangrango - Mandalawangi, mental dan fisik yang luar biasa sekali.

Pendakian ini meskipun menguji ketabahan tapi cukup nyaman, karena pace kami sama, kecepatan kami cukup stabil ketika perjalanan naik dan makanan cukup berlimpah. Alhamdulillah juga ketika perjalanan naik, hanya gerimis yang menemani di setengah perjalanan ke Kandang Badak. Esoknya ketika naik turun puncak pun cuaca cukup cerah. Perjalanan pulang yang cukup berat, dimana hujan deras sejak kami selesai packing dan kaki sudah mulai sakit.

 
Meskipun sampai rumah kaki sakit dan badan kaku, setiap pendakian bagi saya punya cerita dan kesan tersendiri. Apalagi dilakukan bersama dengan tim yang mampu saling mendukung dan melengkapi, kalau kata orang mungkin ini yang disebut romantisme masa muda haha.
xxxChuu original by ra~ccon.

Kamis, 08 Desember 2016

The Adventures of (ex)Unemployed (wo)Man

11.36 Posted by Tiara Putri , , , 4 comments
Jadi salah satu alasan utama saya sempat vakum menulis blog tidak lain dan tidak bukan adalah sekarang saya sudah bekerja, sudah lepas dari status mahasiswa dan harus memasuki dunia orang dewasa dengan segala tikungannya.
 
Saya lulus kuliah sebenarnya sih pada September 2014, namun karena dosen pembimbing saya itu luar biasa sekali, saya jadi telat daftar wisuda di periode akhir tahun 2014 itu dan akhirnya daftar untuk periode Januari 2015.

Pasca sidang tuh ya masih sering saya main kesana kemari, hidup masih berasa bebas tanpa tanggungan. Barulah pasca wisuda jreng jreng jeeeng saya merasa kehidupan yang sebenarnya dimulai. Bener deh, kuliah itu gampang bangetlah kalau harus dibandingkan dengan perjuangan fisik dan mental mencari kerja. Saya melalui sepanjang tahun 2015 dengan semangat yang naik turun disertai air mata yang sudah bergalon-galon kali itu kalau dikumpulkan, bahkan saat saya sudah dapat kerja sekalipun loh.

Pada akhirnya badai pasti berlalu kan *ecielaah* dan setelah terbit matahari memang baru akan terasa bahwa badai yang tidak membunuh kita, sebenarnya menempa aja, bikin kita kuat. Nah, pada titik ini, saya sudah bisa sedikitnya mengambil makna dari proses pencarian kerja kemarin, kalau dirangkum seperti inilah ya.
 
picture from here
      1.      Keep your expectation low ...

Saat menjelang lulus, saya berkali-kali diperingati oleh senior saya, bahwa fresh graduate S1 itu bukan dewa, jadi jangan memiliki ekpestasi yang tinggi terhadap pekerjaan dan gaji yang akan didapat. Jika ternyata mendapat pekerjaan idaman dengan gaji mentereng, bisa jadi karena punya skill yang bikin silau atau sederhananya ya memang rezekinya begitu.



2.       ... and your skill high.

Mengenai peningkatan skill ini harus disadari sejak dini, sejak memutuskan apakah setelah lulus kuliah akan meneruskan kuliah lagi atau bekerja, karena tentunya akan membuat kita fokus terhadap kemampuan-kemampuan yang akan ditingkatkan. Kuliah memang zamannya kita bebas ya, tapi jangan sampai lupa bahwa masih ada masa depan yang harus dipersiapkan. Contohnya nih saya menyesal ketika lulus kuliah, kok pas kuliah enggak nerusin les bahasa Jepang, enggak ikut ini, enggak ikut itu karena saya merasa jika pas kuliah saya memberi sedikit fokus pada minat saya, kedepannya itu bisa menjadi nilai tambah buat saya.

3.      Yakin akan kemampuan diri sendiri.

Saya sempat mengalami fase mogok cari kerja, karena saya merasa saya selalu gagal dalam TPA, saya jadi agak takut-takut gitu datang tes. Syukurlah ketika saya memberanikan diri, saya bertemu dengan lulusan Psikologi yang menyemangati saya, bahwa TPA tidak membuktikan kemampuan kita, tapi perusahaan yang belum cocok dengan kita. Jadi gagal bukan berarti ketidakmampuan, tapi lebih kepada ketidakcocokan, catet bos.

4.      Everything happen for a reason

picture from here
Ini berasa banget sama saya. Kalau saya mengingat-ngingat kembali, saya merasa, saya mendapat pekerjaan yang sekarang karena sudah ditempa di pekerjaan pertama. Jadi ketika saya dapat kerja di bulan April 2015, saya memutuskan yasudah ambil saja dulu, untuk pengalaman. Tapi saya tidak nyaman bekerja disitu, hampir setiap pulang kerja saya menangis, karena di kantor saya merasa di MOS macam dimarahi di depan orang-orang dari 3 departemen, disebut tukang ngarang ditambah harga diri saya perlahan terusik, ketika saya merasa saya punya kemampuan namun pekerjaan utama saya fotocopy dan mengarsipkan dokumen, Celana Merlin, itu sih kerjaan saya pas magang dulu. Pada akhirnya, setelah sebelas bulan, saya memutuskan untuk berdamai dengan diri sendiri, untuk menerima, eh saya diterima di perusahaan saya yang sekarang, yang tentunya lebih baik dari banyak hal. Sekarang saya paham mengapa Allah, membawa saya ke perusahaan pertama, karena memang saya membutuhkan pengalaman dan pelajarannya. Mungkin Allah bilang, “mental kamu butuh ditempa dan kamu harus mulai belajar mengenal emosimu”.

5.       Berdoa.

Ini klise, tapi ya memang begitu adanya. Proses mencari kerja harus dibarengi dengan doa yang kuat. Kita tidak tahu seberapa kuat teman-teman yang mendapat pekerjaan duluan berdoa. Berdoa juga bisa menjaga level kewarasan, meyakinkan bahwa ada Allah yang Maha Merencanakan dan Ia mendengar doa-doa kita. Bisa jadi kita belum dapat kerjaan ya semata-mata karena belum rezekinya saja.

6.       Berolahraga

Sambil berdoa dan berusaha, isi hari dengan kegiatan bermanfaat, saya sih menyarankan berolahraga karena saya merasa dengan berolahraga pikiran lebih bisa berpikir positif. Tubuh juga jadi bugar untuk antri masuk Jobfair atau pergi wawancara di luar kota hhehhe.

7.      Minta Restu Orangtua

Menyoal restu orangtua, yah yang namanya orangtua pasti kasih restu ya, tapi ada kalanya orangtua juga kurang setuju dengan pilihan kerja kita, jadi bicarakan jenis pekerjaan yang kita lamar dan minta restu orangtua. Ini pernah saya alami, ketika orangtua saya kurang menyetujui saya untuk bekerja di bidang perbankan, saya tetap pergi sih, tapi sikap dan nasihat mama saya menyiratkan lebih baik cari di bidang lain saja, nah mungkin itu salah satu sebab saya tidak diterima di bank atau ya karena saya kurang cakap saja untuk berkerja disana hhohho.
picture from here
Nah jalan hidup orang pasti berbeda-beda, ada yang mulus lancar macam jalan tol, ada juga yang mesti keluar masuk gang-sempit-kanan-kiri-orang-jualan, tapi dalam segala situasi mesti belajar bersyukur biar tetep waras haha.
Kalau kata Steve Jobs mah, Life is about connecting the dots, kita baru bisa memahami atau menyambungkan titik-titik dalam hidup kita, setelah kita berhasil melewatinya, just keep believing. Cheers.
xxxChuu original by ra~ccon.



 

Minggu, 20 November 2016

Pantai Pok Tunggal Nan Jauh di Mato

16.14 Posted by Tiara Putri , , 4 comments
Edisi nostalgia, jalan-jalan terakhir saya sebelum pulang kampung. Jadi saya ngajak main adik saya ke Goa Pindul yang sudah saya tulis disini, tapi saya lupa melanjutkan sedangkan lagi-lagi ini draft dibuang sayang.






Pantai Pok Tunggal merupakan salah satu jajaran pantai di daerah Gunung Kidul, Yogyakarta. Pantai yang cantik untuk menikmasi matahari tenggelam. Butuh usaha untuk mencapai pantai ini, cukup jauh dari pusat kota. Saran saya hindari perjalanan malam jika tidak bersama rombongan, karena (pada waktu itu sekitar awal tahun 2015) melewati daerah yang kanan kirinya masih hutan. Sekian (hahaha gaje banget deh)
 
xxxChuu original by ra~ccon.

Jumat, 18 November 2016

Review : Kampung Daun

16.15 Posted by Tiara Putri , No comments
Note : tulisan ini saya buat kurang lebih satu tahun yang lalu dan entah kenapa saya lupa untuk publish, jadi ini semacam triger menulis yang dibuang sayang.

Weekend ini menyenangkan sekali, karena keluarga saya komplit berkumpul. Momen komplit memang susah sekali untuk keluarga saya, karena ayah yang kerjanya jauh dan durasinya lama dan Syifa yang kuliah di Magelang. Setelah saya merasakan jauh dari rumah, momen berkumpul lengkap ini menjadi hal yang mewah dan sangat saya syukuri.

Weekend ini ayah mengajak kami ke Kampung Daun di Lembang. Jadi sudah dari seminggu yang lalu, ayah ini kaya yang ngidam, sampe diomongin terus tiap hari pengen pergi kesini. Ditambah ayah sempet sakit dan lagi-lagi dibilangnya obatnya kalau ke Kampung Daun, hahaha padahal anak-anaknya tuh biasa aja.

Saya juga rada malas sih perginya kalau enggak lengkap, kan kasian Syifa enggak diajak, meskipun dia bilang gpp asal mentahnya dia kecipratan, tapi momennya loh momennya itu, jarang banget bisa kumpul komplit. Makanya pas dia bilang dia ada minggu tenang, kami suruh pulang aja. Bener aja kan, jam 02:30 dini hari sampai rumah, jam 07:00 kami sudah siap untuk pergi ke Kampung Daun, mengabulkan ngidamnya ayah.



Perjalanan menuju Kampung Daun ini cukup jauh karena saya telat kasih instruksi. Jalur terdekat itu katanya belok kiri di belokan pertama dari terminal Ledeng. Sayangnya, jalanan sedang macet dan saya lupa kalau belokan itu deket banget dari terminal Ledeng, jadinya kagok deh dan kami lewat Lembang. 20 menit kemudian, kami tiba di Kampung Daun. Saya kira kami bakal jadi tamu pertama karena sampai sana itu sekitar jam 11:00 siang, eh ternyata enggak juga sih, sudah banyak pengunjung yang datang.  


Kesan pertama begitu tiba di Kampung Daun adalah sejuk, beneran deh tempatnya sejuk, pohon di kanan kiri jalan, aduh nyaman sekali, mana di saungnya itu disediakan bantal guling, duh nyaman dan adem banget deh. Langsung deh kami pesan makanan, sayangnya menunya itu berupa kertas selembar yang sekalian dijadikan kertas pesan, jadi tidak ada gambarnya, ada beberapa paket yang namanya aneh dan tidak tertulis keterangan, jadinya kami pesan yang jelas-jelas saja deh.


Selagi menunggu pesanan datang, saya dan Syifa berjalan ke dalam, karena kami dapat saung di depan. Wah makin takjub lah saya dengan tata letak restoran ini, begitu nyaman, asri dan adem. Hal yang saya sayangkan, kan ada kali kecil gitu, nah kalinya itu masih berbau tidak enak, untung saung kami tidak dilewati aliran kali itu.


Ketika kami kembali ke saung, makanan sudah tersedia. Keluarga saya pesan Gurame bakar saus kecap, spageti bolognese, beef blackpepper with flavored rice dan bakso malang. Well, tempatnya sih enak dan adem, bahkan bisa menggugah selera makan, sayangnya mungkin kokinya lagi galau saat kami datang, makanannya zonk, padahal kami datang di waktu menjelang makan siang dan dalam keadaan lapar, tapi benar-benar kurang memuaskan. Makanannya tidak panas dan kurang nendang bumbunya.


Setelah makan dan tidur siang sebentar, kami pun pergi untuk melanjutkan perjalanan. Ternyata ada antrian di depan, wedew, karena pas datang, saya langsung reservasi tempat dan melenggang masuk, tidak perlu menunggu segala.

Nah ini tips dari saya kalau mau berkunjung ke Kampung Daun :
  1. Lebih baik lewat jalur yang dekat Terminal Ledeng, jangan kebablasan.
  2. Datang pagi menjelang siang, biar enggak nunggu lama, mau makan aja pake daftar tunggu segala, udah nunggu lama-lama makanannya kurang nampol kan Celana Merlin juga. Kecuali ya memang mau dapet suasana yang romantic di malam hari yang sepertinya peak hour, lebih baik jangan datang dengan perut 100% kosong.
  3. Bandrosnya enak, tapi mahaaal hahaha ya namanya di restoran yang lagi ngehits yaa,
  4. Jika berminat beli buah di pintu keluar, liatin aja mamangnya, jangan nawar, cukup liatin aja. Biarin si mamang ngikutin sampe tempat parkir. Pengalaman saya, kami enggak sengaja ngeliatin mamang yang jual strawberry dan berry hitam dengan harga Rp 35.000/box, eh pas kami di mobil, tanpa menawar serius, dapet deh Rp 50.000 untuk 3 box, hehehehe. 
Kesimpulannya, Kampung Daun itu tempatnya enak, nyaman dan adem, sayang, kokinya lagi galau dan gasnya lagi habis kali ya.
xxxChuu original by ra~ccon

Minggu, 18 Oktober 2015

Vitamin-Sea : Recharge & Refresh

21.28 Posted by Tiara Putri , , 4 comments
Melanjutkan cerita perjalanan saya ke Pulau Harapan yaa, jadi kebanyakan paket wisata ke Pulau-Pulau di Kepulauan Seribu itu berdurasi 2 hari 1 malam, disarankan kalau mau santai menikmati wisatanya itu hari weekday, karena kalau weekend apalagi libur panjang pasti penuh sekali, secara opsi quickie getaway dari Jabodetabek.

Agenda kegiatan di hari kedua di Pulau Harapan ini adalah Island Hopping, jadi kami diajak berkunjung ke pulau-pulau kecil yang tersebar di dekat Pulau Harapan. Beberapa Pulau kecil ini milik pribadi loh, ckckck ngiler enggak sih bisa punya pulau pribadi di kawasan yang lautnya oke punya, saya sih ngiler berat.
Pulau Harapan dikelilingi beberapa pulau kecil berjarak kurang lebih 10-20 menit perjalanan menggunakan kapal. Agenda hari kedua ini cuma sekedar lihat-lihat pulau saja karena jam 11:00 kami sudah harus berada di kapal yang akan membawa kami pulang ke Jakarta.


Kegiatan hari kedua ini bagi saya cukup membosankan, karena saya bukan tipe yang doyan selfie kali ya. Pulau-pulau yang dikunjungi ya tidak ada yang bisa dilihat, sama saja gitu tidak ada daya tarik atau uniknya, malah terkesan terbengkalai, sayang sekali, padahal cukup berpotensi untuk lebih dikembangkan. Seperti di Karimunjawa, di Pulau Menjangan Besar wisatawan bisa melihat dan berinteraksi dengan hiu di penangkaran yang dibuat oleh warga sekitar.


Saya pun menyarankan kami untuk pulang saja, agar bisa dapat tempat di kapal. Benar saja deh, kapal yang akan membawa kami ke Jakarta sudah penuuuuh sekali, untuk dapat tempat di bawah tangga saja sudah bersyukur deh dan saya punya firasat bahwa perjalanan pulang ini tidak akan semulus perjalanan pergi, jadi saya menenggak pil antimo, lalu mengambil posisi berbaring di bawah dek kapal.


Firasat saya benar, Celana Merlin, perjalanan pulang ombaknya besar, terasa sekali terombang-ambingnya padahal saya sudah minum antimo, tapi kapal berguncang dan satu persatu anggota rombongan saya tumbang. Alhamdulillah saya sih tidak sampai muntah, meskipun perut memang rasanya sudah tidak enak. Makanya ketiika kapal merapat di dermaga Muara Angke, rasanya begitu lega, meskipun ketika menginjak daratan, ada rasa limbung dan oleng hahaha amatiran ya.

Well, perjalanan ke Pulau Harapan cukup untuk recharge energi dengan memberi saya vitamin-sea, meskipun memang masih kurang gregetnya. Dari pengalaman ini, saya ingin berbagi tips bagi yang hendak berkunjung ke Pulau Harapan :
  1. Bandingkan harga sebelum memutuskan memakai operator wisata, karena pada dasarnya kegiatannya sama saja tapi harga bisa berbeda.
  2. Datang pagi-pagi sekali untuk menghindari terjebak macet jika pergi wisata pada weekend. Setelah itu langsung menuju kapal untuk mencari tempat duduk, karena tidak diberi tiket, apalagi di booking-kan tempat duduk.
  3. Tips untuk mencegah mabuk laut, hindari bepergian dengan perut kosong, minum air jeruk nipis hangat setelah makan. Kalau saya sih Tolak Angin dan semacamnya bantu banget mengurangi mual. Cari tempat yang nyaman, kalau perutnya lemah, saya sarankan untuk berbaring selama perjalanan dan minum obat anti mabuk. Bawa minyak yang disukai, karena jika sudah ada bau-bauan aneh, biasanya akan lebih mudah terangsang untuk muntah
Semoga tips diatas membantu yaa. Titip salam untuk pohon kelapa dan pasir pantai, katakan pada mereka, saya rindu, hhehhe.
xxxChuu original by ra~ccon.

Minggu, 11 Oktober 2015

Quickie Getaway : Harapan Island

19.46 Posted by Tiara Putri , , 4 comments
Hai hai, duh saya sedih sekali melihat blog ini, tidak terurus, kegiatan menulis saya menurun drastis dan saya mengkambinghitamkan hari-hari yang saya anggap sibuk padahal ya enggak juga. Di tahun ini saya sering pergi jalan-jalan bareng Syifa, adik saya. Kami ke Gunung Lembu, Gunung Parang dan ke Pulau Seribu juga. well, semoga satu persatu bisa saya rekam melalui tulisan ya.

Jadi suatu hari, adik saya itu ngajak ke Pulau Tidung di Kepulauan Seribu, saya sih oke oke aja, apalagi kan kalau pesertanya semakin banyak, biaya per orangnya jadi lebih murah. Setelah survey kesana kemari, akhirnya diputuskanlah Pulau Harapan yang akan menjadi tujuan kami. Jadilah kami memilih sebuah weekend untuk berangkat (enggak dibocorin kapannya, biar gg ketauan basinya hhihhi). Total rombongan kami bersebelas : Saya, Syifa, Ardiyan, teman syifa berlima, dan keluarga salah satu temannya bertiga, jadi biaya yang kami bayarkan per orang adalah Rp 330.000.

Saya, Syifa dan Ardiyan malamnya menginap di rumah teman kuliah Syifa di daerah deket Jakarta Utara, karena jam 07:15 kami sudah harus stand by di Muara Angke. Untungnya kami menginap, karena berangkat pagi saja terjebak macet, jalanan di Muara Angke tergenang air dan dipenuhi kendaraan yang mengantar para wisatawan, ditambah dengan di kawasan itu Gubernur dan Menteri mau datang, makin lah tumpah ruah jalanan. Disitu saya takjub, ada ya orang yang kuat tinggal di kawasan Muara Angke.

Saya merasa udah berangkat pagi, ternyata salah besar, sesampainya di dermaga, orang sudah kayak semut, banyak banget. Tapi memang kami berangkat cukup pagi sih karena kami masih kebagian kursi di kapal, jadi kapalnya itu kapal kayu kecil, ada tempat duduk kayak di kereta. 

Perjalanan menuju Pulau Harapan memakan waktu kurang lebih 3 jam perjalanan, tidak begitu terasa karena saya tidur nyenyak. Begitu sampai di Pulau Harapan, rombongan semut satu persatu menuju sarang selama dua harinya. Senangnya kami dapat homestay yang masih baru, agak jauh sih dari dermaga, mana harus ngelewatin kuburan, tapi ke laut gg jauh, laut di depan kami cihuuuy.


Ketika pintu dibuka, makan siang sudah tersaji berupa nasi, dua lauk pauk, sirup dingin, air mineral gelas, buah dan kerupuk. Duh senang deh rasanya, karena baru kali ini saya jalan-jalan yang "mewah" begini hhehhe. Setelah makan siang, kami siap-siap deh untuk snorkeling, jam 13:00 duh pas panas-panasnya kan, tapi memang itinerary paketnya ya begitu.

 Snorkeling ini kami diajak ke beberapa spot, cantik sih tapi kok rasanya saya masih belum bisa move on dari Pulau Sambangan, hhehhe. Saya kurang menikmati kegiatan snorkeling, karena kalau terlalu lama saya suka jadi mabuk laut, terapung terombang-ambing bikin badan enggak enak. Nah mungkin ada pengaruhnya dari perut kosong kali ya, karena saya tidak makan siang. Jadi setelah ke beberapa spot snorkeling, kami diajak ke sebuah pulau kecil dan disana ada tukang jualan, udah kaya rest area gitu. Mereka jual mie instan, kelapa muda, gorengan dan es-esan. Harganya memang tidak terlalu mahal untuk ukuran di tengah pulau begitu, tapi tetap saja, selalu bertanya harga di awal untuk mencegah keterkejutan di akhir.

Setelah makan kami diajak ke gosong, yakni gundukan pasir di tengah laut yang muncul ketika laut sedang surut. Hari semakin sore, kami pun beranjak pulang. Di homestay, lagi-lagi makanan sudah tersedia, jadi kami bergantian mandi deh. Sayangnya air untuk mandinya bau sekali, duh saya sampai pengap di kamar mandi karena menahan nafas, aroma sabun pun tidak bisa menutupi bau air yang percampuran antara bau oli dan bau got, maka dari itu, saya cuci muka dan gosok gigi pake air mineral dari galon.

Sambil menunggu guide kami datang membawa ikan untuk acara bakar-bakar, perlahan rasa kantuk menyerang semua orang, sedangkan saya mengobrol dengan Ardiyan. Terus kami jalan-jalan deh ke alun-alun cari makan malam untuk saya. Brrr angin malamnya dingin, tapi tidak menyurutkan orang-orang untuk main ke alun-alun. Saya beli jagung bakar dan cumi bakar. Satu porsi cumi bakar harganya Rp 10.000, isi tiga tusuk, masing-masing tusuk berisi 4 potongan kecil cumi-cumi. Rasanya enak, karena setelah dibakar, diberi bumbu kacang, jadi seperti sate biasa saja.

Setelah kenyang makan malam, kami pulang ke homestay, personil sudah pada bangun karena mas guide udah datang bawa ikan tuna besar 11 ekor. Saya sih enggak makan, karena saya memang tidak terlalu suka seafood, padahal kata anak-anak ya rasanya enak dan tidak amis.
Puas melihat yang makan ikan, saya pun beranjak masuk dan berbagi kasur dengan empat orang, bagaikan ikan pindang, tapi lelah mendera dan kami pun terlelap.
xxxChuu original by ra~ccon.

Jumat, 27 Maret 2015

Rangkaian Putri Tidur : Gunung Bongkok

07.53 Posted by Tiara Putri , 14 comments
Halo, saya kembali lagi setelah lagi-lagi menghilang hhuhhu padahal sempet berjanji pada diri sendiri untuk kembali disiplin menulis. Sekarang saya di rumah, kok di rumah ? kenapa ? soalnya saya sudah lulus horeeee, detil ceritanya saya ceritakan nanti, biar ada bahan menulis.

Nah liburan kemarin, Syifa, adik saya ngajakin naik gunung, ternyata di Purwakarta juga ada gunung, dua malahan, yakni Gunung Parang dan Gunung Bongkok. Saya baru tahu kalau Parang itu juga gunung, karena sebelumnya saya kira cuma tebing saja, tahun kemarin, junior saya manjat disitu.

Berkali-kali merencanakan pergi, enggak pernah terealisasi, sampai akhirnya liburan Syifa juga usai belum jadi berangkat. Sampai kemarin saya diajak maen sama kakak sepupu jauh saya, terus saya ajakin dia untuk naik gunung, dia setuju untuk berangkat di hari minggu. Naasnya saya malahan lupa ngajakin Inesz, saya baru inget hari sabtu malam, pas kakak sepupu itu ngebbm saya untuk konfirmasi, dibatalin enggak enak juga karena dia sampai udah beli celana training.

Akhirnya Minggu, 22 Maret 2015, saya jadi berangkat untuk naik Gunung Parang bersama kakak beradik sepupu jauh saya dan dua adik saya, Izmi dan Lulu. Mereka saya ajakin karena masa hiking cuma berdua itu kan gg seru banget ya. Tapi naasnya, motornya cuma ada dua, yaudahlah kami nekat satu motor ada yang bonceng tiga, lagian Izmi dan Lulu kan badannya kecil-kecil, yang penting mangkaaat.

Kami berangkat jam 08:00, saya dan kakak sepupu sama-sama enggak tahu jalan, jadi saya pakai Google Maps yang ternyata menyesatkan. Kami diarahkan ke jalan yang jelek, jalur truk pengangkut batu, kanan kiri batu, jalanannya berlubang, sampai ban motor saya bocor, untungnya bocor di depan tukang tambal ban.


Sekitar jam 10:00 kami sampai lokasi, terus ada pertigaan, disitu ditanya mau kemana, saya bilang mau ke Parang, ternyata masih harus turun lagi, kalau ke Bongkok bisa parkir motor disitu. Saya tanya lagi, Parang sama Bongkok jarak tempuh pendakiannya pendek mana, dibilang Bongkok yaudah saya memutuskan untuk naik Bongkok aja jadi kami parkir disitu.


Setelah parkir dan titip helm, kami mulai jalan, jadi kalau di Bongkok ini registrasi ada di pos 2 sekaligus camping groundnya, 15 menit perjalanan dari lokasi penitipan motor. Ternyata rame sekali, banyak tenda didirikan, saya kira masih sepi, ternyata sayanya aja yang udik. Disitu kami mendaftar dan bayar Rp 5000/orang. Dari camping ground sudah terlihat pemandangan Waduk Jatiluhur loh, bagus deh.


Memulai pendakian, jalurnya becek sekali, karena habis turun hujan dan sudah banyak dilalui orang. Terlebih makin lama, jalurnya makin licin dan terjal, saya sempat khawatir dan mengajak Izmi Lulu untuk menyudahi pendakiannya, karena saya khawatir pas turunnya mereka kesusahan, tapi mereka malah bilang lanjut saja, yaudah kami lanjut. Di beberapa titik yang terjal dan curam mendekati puncak, sudah dipasang webbing sebagai alat bantu. Jadinya saya enggak punya foto pas perjalanan, karena khawatir kalau pegang kamera saya jadi gg bisa menjaga keseimbangan dan mengarahkan adik-adik saya. Pendakian kemarin itu rame sekali, dari yang tampilannya ala pendaki sampai ala ke mall ada.


Ketika adzan dzuhur berkumandang, kami tiba di puncak, kurang lebih dua jam perjalanan, karena kami juga banyak istirahatnya dan macet di perjalanan. Nama puncaknya, puncak batu tumpuk dengan ketinggian 975 MDPL, karena puncaknya memang berupa batu-batu besar yang bertumpuk.


Dari puncak, kami hampir bisa melihat Waduk Jatiluhur secara keseluruhan, ternyata besaaaaaar sekali ya Waduk Jatiluhur itu, saya lagi-lagi baru tahu. Pemandangan dari puncaknya, Masya Allah, indah sekali, ternyata keindahan yang sering saya temukan di tanah orang ada di rumah sendiri itu luar biasa sekali. Selain terlihat Waduk, juga terlihat Gunung Parang dan rangkaian bukit yang mengitari Purwakarta. Kenapa judulnya rangkaian putri tidur ? karena perbukitan di Purwakarta kalau dilihat dari Sadang, terlihat seperti perempuan yang sedang tertidur loh.


Pulangnya kami lewat jalan utama Plered yang lebih cepat, mulus dan aman. Syukurlah bisa tahu satu tempat bagus dan itu di kampung sayaaaaa. xxxChuu original by ra~coon.